-
Apa itu Failover?
-
Apa Itu Failback?
-
Perbedaan Utama Antara Failover dan Failback
-
Kasus Penggunaan dalam Infrastruktur TI Modern
-
Terapkan Solusi Pemulihan Bencana yang Kuat
-
Failover vs Failback FAQs
-
Kesimpulan
Dalam situasi digital saat ini, memastikan kelangsungan bisnis dan integritas data adalah hal yang sangat penting. Konsep failover dan failback merupakan komponen penting dalam mencapai tujuan ini. Kedua istilah tersebut merupakan bagian dari bidang pemulihan bencana dan solusi ketersediaan tinggi secara umum, yang bertujuan untuk meminimalkan waktu henti dan kehilangan data selama terjadi kegagalan sistem. Artikel ini bertujuan untuk memberikan tinjauan mendalam mengenai failover dan failback, perbedaan keduanya, serta mengapa keduanya penting untuk menjaga ketahanan operasional.
Apa itu Failover?
Failover mengacu pada kemampuan suatu sistem untuk secara otomatis beralih ke server cadangan atau sistem alternatif ketika sistem utama mengalami kegagalan. Proses ini memastikan bahwa layanan tetap tersedia bagi pengguna tanpa gangguan yang berarti. Umumnya, suatu sistem failover melibatkan dua komponen utama:
1. Sistem Primer: Ini adalah server atau sistem utama yang menangani semua permintaan pengguna dalam kondisi operasional normal.
2. Sistem Sekunder (atau Siaga): Duplikat atau hampir duplikat dari sistem utama, sering kali diperbarui sesuai dengan data dan konfigurasi sistem utama. Ketika terjadi kegagalan, sistem sekunder akan secara otomatis mengambil alih tugas-tugas sistem utama.
Keunggulan utama failover adalah kemampuannya untuk memberikan kontinuitas layanan secara langsung. Sistem failover dapat diterapkan pada berbagai tingkatan, mulai dari failover tingkat server hingga failover yang spesifik untuk aplikasi, bahkan sampai tingkat jaringan. Sebagai contoh, failover basis data melibatkan basis data sekunder yang mengambil alih peran basis data utama jika basis data utama tidak tersedia. Demikian pula, failover jaringan memastikan bahwa jika satu jalur jaringan gagal, jalur lain secara otomatis digunakan.
Apa Itu Failback?
Failback adalah proses beralih kembali ke sistem asli setelah sistem tersebut diperbaiki atau dipulihkan pasca gangguan. Berbeda dengan failover yang merupakan respons langsung terhadap gangguan sistem, failback merupakan proses yang direncanakan dan mungkin berlangsung dalam periode yang lebih panjang. Selama proses ini, sistem utama diaktifkan kembali, diuji, kemudian diintegrasikan kembali ke lingkungan produksi.
Tujuan dari failback adalah mengembalikan infrastruktur TI ke keadaan semula, dengan sistem utama melanjutkan kembali tanggung jawabnya. Proses ini penting karena beberapa alasan:
Efisiensi Biaya: Setelah sistem utama kembali online, sistem tersebut dapat menangani beban kerja, memungkinkan sistem sekunder kembali ke mode siaga, sehingga mengurangi biaya operasional.
Alokasi Sumber Daya: Sistem utama sering kali dioptimalkan untuk kinerja dan mungkin memiliki kapasitas lebih besar daripada sistem sekunder, yang biasanya dirancang hanya untuk menangani sebagian fungsi sistem utama.
Integritas Sistem: Kembali ke sistem utama memastikan bahwa semua operasi dilakukan pada platform yang telah sepenuhnya diuji dan divalidasi, meminimalkan risiko masalah yang mungkin timbul akibat penggunaan sistem sekunder secara berkepanjangan.
Perbedaan Utama Antara Failover dan Failback
Tujuan: Failover dirancang untuk mempertahankan ketersediaan layanan segera setelah terjadi kegagalan, sedangkan failback berfokus pada pemulihan sistem asli ke fungsionalitas penuh.
Waktu: Failover adalah reaksi instan terhadap gangguan yang terdeteksi, sedangkan failback adalah proses yang sengaja diinisiasi setelah sistem utama diperbaiki.
Tingkat Otomatisasi: Proses failover umumnya diotomatisasi untuk memastikan perpindahan yang cepat, sedangkan failback sering melibatkan langkah-langkah manual untuk memverifikasi kesehatan dan integritas sistem utama sebelum mengembalikannya ke status online.
Sumber Daya: Failover memerlukan sistem sekunder yang kuat dan mampu menangani beban utama tanpa pemberitahuan sebelumnya, sedangkan failback memanfaatkan sistem utama yang telah dipulihkan, yang umumnya lebih bertenaga dan efisien.
Sementara failover dan failback memiliki tujuan yang berbeda, keduanya sama pentingnya untuk perencanaan pemulihan bencana secara menyeluruh. Failover memastikan bisnis Anda dapat terus beroperasi selama peristiwa tak terduga, melindungi dari potensi kerugian finansial dan kerusakan reputasi. Failback, di sisi lain, memungkinkan Anda kembali ke kondisi yang stabil dan berpotensi lebih baik, memastikan keberlanjutan dan efisiensi jangka panjang.
Kasus Penggunaan dalam Infrastruktur TI Modern
1. Failover dan Failback Berbasis Cloud: Dengan meningkatnya penggunaan komputasi awan, organisasi kini dapat memanfaatkan solusi failover berbasis cloud, yang memberikan opsi pemulihan bencana yang lebih fleksibel dan hemat biaya. Penyedia layanan awan sering menawarkan layanan failover ke pusat data yang secara geografis redundan, diikuti oleh proses failback yang mulus ketika lingkungan utama telah dipulihkan.
2. Lingkungan Tervirtualisasi: Pada lingkungan seperti VMware, Proxmox, atau Hyper-V, mesin virtual (VM) dapat dialihkan ke host atau pusat data sekunder, memastikan ketersediaan tinggi. Setelah infrastruktur utama kembali online, VM dapat dikembalikan ke host asalnya, sehingga meminimalkan waktu henti.
3. Sistem Basis Data: Banyak sistem basis data mendukung pengelompokan failover, di mana basis data secara otomatis dialihkan ke server cadangan apabila terjadi kegagalan. Setelah basis data utama diperbaiki, failback memungkinkan resinkronisasi data dan pemulihan operasi normal.
Terapkan Solusi Pemulihan Bencana yang Kuat
Vinchin Backup & Recovery dirancang untuk memberikan perlindungan data menyeluruh dan pemulihan bencana bagi lingkungan virtual. Solusi ini dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bisnis yang mencari cara yang andal dan efisien untuk mem-backup dan memulihkan mesin virtual mereka dalam hal terjadinya kehilangan data, kegagalan sistem, atau peristiwa bencana lainnya.
Ini mendukung lebih dari 10 platform virtualisasi, termasuk VMware, Hyper-V, Proxmox, XenServer, dan oVirt, memastikan kompatibilitas di berbagai ekosistem TI. Dikembangkan khusus untuk lingkungan virtual, Vinchin menawarkan cadangan otomatis, cadangan tanpa agen, opsi LAN/LAN-Free, penyalinan ke lokasi lain, pemulihan instan, deduplikasi dan kompresi data, serta arsip cloud. Dengan enkripsi data dan perlindungan ransomware, ini memberikan perlindungan ganda untuk cadangan mesin virtual serta mendukung migrasi V2V yang mudah.
Ini hanya membutuhkan 4 langkah untuk mencadangkan VM dengan Vinchin Backup & Recovery:
1. Pilih objek cadangan.
2. Pilih tujuan cadangan.
3. Konfigurasikan strategi cadangan.
4. Tinjau dan kirimkan pekerjaan.
Ayo dan alami sendiri kemampuan penuh dari sistem yang tangguh ini dengan uji coba gratis selama 60 hari! Hubungi kami dengan kebutuhan Anda, dan Anda akan mendapatkan solusi yang disesuaikan untuk infrastruktur TI Anda.
Failover vs Failback FAQs
1. P: Tantangan apa saja yang bisa terjadi selama proses failback?
A: Tantangan mungkin mencakup masalah sinkronisasi data, ketidakkonsistenan sistem, atau masalah konfigurasi jaringan, semuanya perlu diselesaikan sebelum kembali ke sistem utama.
2. T: Bagaimana perbedaan failover antara lingkungan virtual dan non-virtual?
A: Dalam lingkungan yang divirtualisasi, failover sering melibatkan pemindahan VM antar host atau pusat data, sedangkan dalam lingkungan yang tidak divirtualisasi, mungkin diperlukan untuk mengganti server fisik atau penyimpanan.
Kesimpulan
Failover dan failback adalah strategi yang saling melengkapi dan menjadi tulang punggung dari setiap rencana pemulihan bencana yang kuat. Jika failover memberikan perlindungan segera terhadap waktu henti, failback memastikan bahwa operasi normal dapat dilanjutkan secara efisien begitu sistem utama dipulihkan. Dengan menerapkannya secara matang, Anda dapat memastikan ketahanan, meminimalkan waktu henti, dan cepat pulih dari gangguan
Bagikan di: